Hari itu Sabtu telah menunjukkan bahwa hari mulai petang. Aku pulang ke kampus dengan buru-buru, karena telah ditunggu teman-teman dari Racana Raden Mas Said-Nyi Ageng Serang IAIN Surakarta untuk "munggah gunung", istilah itulah yang sering kami lantunkan ketika mau naik gunung. Bukan hanya teman-teman dari Racana RMS-NAS saja, ternyata kami kedatangan tamu dari Salatiga yang juga ikut meramaikan acara ini. Karena sudah menjadi hobi dari anak-anak racana sendiri bergelut dengan alam bebas.
Tujuan kami sore itu masih bimbang. Ada yang ngajak ke gunung Sindoro-Sumbing. tapi kendalanya itu tempat yang sangat jauh. Ada yang usul naik merapi, tapi kami sudah sering naik merapi karena jarak yang dekat dari solo dan juga track yang tidak terlalu sulit. Akhirnya kami membuat kesimpulan untuk naik ke gunung Lawu yang dari solo tidak terlalu jauh, juga gunung yang terkenal memiliki nilai mistik di puncaknya, dan juga memiliki sendang Drajat yang konon ceritanya pernah dijadikan tempat untuk bertapa seorang raja.
Kami berangkat berenam dengan kendaraan roda dua sekitar jam lima sore. Sesampainya di daerah Tawangmangu-Karanganyar yang menjadi titik awal pendakian, sebelumnya kami mampir di Pasar wisata Tawangmangu untuk mengisi perut yang belum diisi sejak dari solo. Huh.. ternyata asyik juga makan di HIK (istilah orang solo) atau "warung sego kucing" (istilah yang sering kusebut karena aku berasal dari semarang) yang ada di samping jalan persis didepan pasar. Dengan hawa khas dari dataran tinggi, hawa dingin tentunya menyelimuti kami. Namun bukan menjadi masalah, karena itulah hawa yang kami cari jauh-jauh dari daratan panas seperti solo.
Jam menunjukkan pukul delapan malam, saat itulah kami mulai start dari pasar menuju lereng yang menjadi titik awal yaitu dari "Cemoro Kandang". Registrasi masuk pun telah kami lakukan, dan tidak lupa satu tim ini berdoa bersama memohon pada Allah agar diberi keselamatan dari melakukan pendakian. seteah itu, mulailah kami mendaki dan menikmati setiap langkah kami untuk menggapai puncak lawu. Langkah demi langkah, dan indahnya pemandangan dari gunung membuat lebih nyata tentang keagungan Allah swt. Betapa Agung kekuasaan-Nya terhadap isi dunia ini... Dan mengapa manusia yang diberi nikmat, sering melalaikannya. Heemm.. Alhamdulillah Ya Allah telah memberi kami kesempatan dengan mempersembahkan kepada tubuh ini merasakan indah dan nikmatnya pendakian.
Sekitar jam duabelas malam kami sampai di pos dua dan beristirahat disana. Fajar menyapa tanpa terdengar lantunan adzan. tidak seperti di solo maupun dirumah, yang setiap harinya suara adzan dapat terdengar. Kami sholat dan segera prepare untuk melanjutkan perjalanan. Sampai sekitar jam 7 pagi kami naik kembali. Tapi tidak seperti awal berngkat, sekarang hanya aku dengan Roni anak Salatiga yang naik keatas dan yang lainnya masih di pos dua, yang katanya "mau nyusul nanti. hehehe".
Dengan langkah penuh semangat, aku dan Roni melanjutkan perjalanan untuk menggapai target sampai puncak. Meski banyak istirahat dalam perjalanan, akhirnya sampai di puncak sekitar jam 12 siang dan berfoto ria disana sembari istirahat. Setelah puas memanjakan mata menikmati puncak yang begitu indah, kami pun turun. kami berdua bertemu dengan tim lagi di lereng. Akhirnya kami memutuskan untuk segera pulang setelah asyik cerita dan bercanda ria. Meski capek, tapi sebanding dengan apa yang didapatkan disana.
by : Wisnu Wicaksono (Co. Litbang di Racana RMS_NAS IAIN Surakarta)